Kemarin pada tanggal 31 Maret 2012, BEM tetangga sebelah ( ITS ) yang bekerjasama dengan Perpustakaan Proklamator Bung Karno dan Persatuan Insinyur Indonesia - wilayah JATIM mengadakan entah seminar atau apa namanya, intinya yang saya baca dari backdropnya "Kuliah Bung Karno untuk Kebangsaan dan Teknologi" dengan tema " Membangun Kemandirian Teknologi Energi " di Gedung Pusat Robotika Kampus ITS Sukolilo. Hari itu di bagian depan gedung robotika juga dipenuhi dengan stand karya mahasiswa ITS dan stand makanan.
.jpg)
Yang menarik salah satu pengisi acara tersebut adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara ( BUMN ), Bapak Dahlan Iskan. Melenceng sedikit dari judul di atas, ternyata beliau orang MAGETAN punya lho. Ketika nama beliau ditampilkan di screen, saya sempat bertanya dalam hati "Lho, kok gak ada gelarnya. Apa operatornya yang salah?". Ternyata beliau lulusan Madrasah Aliyah. Dan yang membuat saya tercengang lagi, beliau terpilih menjadi menteri karena beliau dengan background seorang jurnalis memiliki banyak ide kreatif dan indepen.
Saat mengisi acara tersebut, beliau tidak menyampaikan hal-hal yang teoritis namun dengan pembawaan yang besahabat, apa yang disampaikan bisa masuk ke dalam otak dan hati dengan mudah.
Garis besar yang beliau sampaikan seperti berikut : Kemarin malam alumni teknik sipil ITS berhasil menciptakan sebuah terobosan baru di dunia pertanian yaitu mesin yang dapat digunakan untuk memanen padi, alatnya tidak terlalu besar dan yang terpenting COCOK UNTUK RAKYAT. Beliau juga berkata akan melarang impor mesin panen dari luar negeri, alat tersebuat tidak cocok dengan rakyat Indonesia karena kebanyak sawah petani negeri kita tidak terlalu besar, paling-paling hanya 1,2,3,4,5, atau 6 hektar. Selain itu mesin-mesin yang diimpor memang hanya cocok untuk pertanian dalam skala yang besar, katakanlah 3000 hektar. Bayangkan saja dengan alat yang besar, hanya digunakan 2 sampai 3 kali dalam satu tahun. Ada lagi kelebihan dari mesin penemuan alumni ITS tadi, jika musim panen sudah selesai maka mesin yang di dalamnya di desain bisa diganti dengan mesin bajak, dengan waktu sekali panen 5 jam untuk satu hektar sudah tergolong cepat jika dibandingkan jaman dulu yang memerlukan setidaknya 20 orang dalam satu hari satu malam dan alat tersebut juga bisa memisahka batang padi yang dalam bahasa jawa "Damen". Namun mesin-mesin impor tadi tidak bisa melakukan itu. Mesin panen ya mesin panen, mesin bajak ya mesin bajak. Indonesia masih membutuhkan mesin pengering gabah yang saat ini belum ditemukan yang COCOK UNTUK RAKYAT. Tahun kemarin, Indonesia impor besar-besaran mesin pengering gabah, namun banyak yang tidak terpakai karena alat tersebut membutuhkan BBM agar dapat bekerja atau sekam yang hanya cocok digunakan untuk pertanian skala besar. Ya, sampai sekarang pakai yang tradisional dulu saja, dijemur di jalan-jalan kalau mau lebih cepat dijemur di landasan pesawat.
Lagi, alumni ITS juga menciptakan alat penghemat air wudlu karena banya air yang terbuang sia-sia si celah-celah gerakan wudlu. Hasil riset, rata-rata kita menghabiskan 5.5 Liter untuk sekali wudlu. Dalam penemuan ini bisa menghemat 5 Liter air, sehingga hanya 0.5 Liter untuk sekali wudlu. Bayangkan jika 1 orang menghemat 5 Liter, satu keluarga, kemudian satu kampus. Alat ini dianggap COCOK UNTUK RAKYAT.
Lagi, alumni tetangga sebelah membuat kapal three in one. Pelni tiap tahun rugi ratusan milyar. Hal ini dikarenakan minat penumpang untuk kapal berkurang akibat harga tiket pesawat dan tiket kapal hampir sama. Kapal Pelni yang berkapasitas 2000 penumpang, yang dulunya bisa full terisi sekarang hanya 500 saja maksimal penumpangnya. Dengan desain yang besar dan hanya dinaiki 500 orang, tentunya rugi karena bahan bakar yang digunakan untuk mengangkut 2000 dan 500 penumpang sama. Dikecilkan kapalnya, itu tidak mungkin. Maka kapal tersebut didesain untuk mengangkut 3 macam muatan. Untuk mengangkut penumpang bisa, mengangkut barang bisa, mengangkut heawan ternak seperti sapai juga bisa. Mengapa ternak? karena tidak ada kapal khusus untuk mengangkut ternak, sudah ada tapi harus menunggu jumlah tertentu baru bisa diberangkatkan. Harapan nantinya jika kapal berangkat dengan kapasitas yang full, kembali lagi juga kapasitasnya full.
Dahlan Iskan berharap ditemukannya mesin pengubah tepung sagu menjadi berbentuk seperti beras. Jadi beliau ingin tepung sagu tersebut nantinya berbentuk sperti beras, berasa seperti beras, baunya juga seperti beras. Mengapa demikian ? Karena di Indonesia wilayah timur khususnya Papua memiliki 1 juta hektar lebih ladang sagu yang belum diberdayakan. Dengan produksi 1.8 juta ton rasanya sia-sia jika tidak dimanfaatkan.Suatu hal ganjil terjadi di negeri kita, harga sagu di Papua yang notabene penghasil sagu terbesar di Indonesia 20.000/kg namun di Cirebon harganya jatuh menjadi 6000/kg, suatu pertanyaan besar. Maka dari itu, beliau mengharap Perhutani membangun pabrik sagu yang besar di Sorong untuk mengeksploitasi sagu yang ada disana, selain itu juga untuk memperbaiki cara pengolahan sagu disana. Tidak hanya itu, pada bulan Agustus BUMN akan memulai pembangunan pelabuhan besar di Sorong. Hal ini dimaksudkan agar nantinya transportasi baik muatan penumpang atau barang bisa berjalan dengan baik. Yang dari Jawa mengirim beras ke Papua dan dari Papua mengirim sagu ke Jawa.
Beliau juga membahas tentang batalnya kenaikan BBM. Untuk saat ini rakyat boleh saja bergembira, namun dana subsidi BBM diperkirakan habis bulan Agustus. Menurutnya, rakyat akan lebih menderita lagi setelah itu. Solusinya adalah membatasi penggunaan BBM. Memutar otak bagaimana caranya agar uang subsidi BBM 130 trilyun cukup untuk membeli BBM hingga akhir tahun. Maka beliau mengharap ada penemuan "alat yang mampu mendistribusikan BBM bersubsidi tepat sasaran" ( calon judul PKM untuk penulis ya, jangan diambil ).
Saya tahu banyak mahasiswa POLITEKNIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA yang dapat menciptakan penemuan yang lebih modern, lebih canggih, dan lebih COCOK UNTUK RAKYAT. Berkompetisi untuk menciptakan berbagai macam penemuan untuk rakyat kita sendiri, sangatlah diperlukan.
Ayo mahasiswa POLITEKNIK, talk less do more for our citizen.



18.01
erde

Posted in: 






